Minggu, 01 April 2012

GASTRITIS


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Gastritis adalah peradangan pada lambung, merupakan gangguan yang sering terjadi dengan karakteristik adanya anoreksia, rasa penuh dan tidak enak pada epigastrium mual dan muntah.
Peradangan pada lambung “Gastritis” sering disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mudah mengiritasi mukosa lambung, juga dapat disebabkan oleh adanya minuman keras, racun dan stres. Apabila masalah ini timbul dan tidak segera mendapat penanganan akan menyebabkan keadaan yang lebih serius, seperti pendarahan, hematemesis dan melena.
Masalah kesehatan ini perlu mendapatkan perhatian khusus, karena perjalanan penyakit ini biasanya ringan, walaupun demikian kadang-kadang dapat menyebabkan kedaruratan medis, yaitu pendarahan pencernaan bagian atas. Dalam hal ini peran perawat sangat diperlukan dalam mencegah terjadinya pendarahan lambung, yang berlanjut menjadi hipovolemik shock. Maka dalam memberi asuhan keperawatan yang tepat perlu adanya kerja sama antara tim medik dan keluarga.

B.     Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:
  1. Memahami secara lebih mendalam tentang gastritis.
  2. Mendapatkan pengalaman nyata dalam merawat pasien yang terkena gastritis.
  3. Memberikan asuhan secara tepat terhadap pasien dengan gastritis.

C.    Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah:
  1. Studi kepustakaan yaitu dengan bedah buku dari literatur-literatur gastritis.
  2. Studi pengamatan kasus langsung pada pasien dengan gastritis.
D.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah yang digunakan adalah bab pertama dijelaskan mengenai latar belakang terjadinya penyakit gastritis, tujuan penulisan serta sistematika penyusunan makalah. Data mengenai gastritis dan asuhan keperawatannya terangkum dalam bab kedua yang meliputi Konsep Medik terpapar mengenai definisi, anatomi fisiologi sistem pencernaan, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala serta penatalaksanaan maupun komplikasi yang mungkin terjadi akibat gastritis.
Dalam konsep asuhan keperawatan diuraikan mengenai pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan dan discharge planning. Bab ketiga menerangkan tentang pengamatan kasus, bab keempat menerangkan tentang pembahasan kasus. Di akhir makalah penulis cantumkan literatur-literatur yang penulis gunakan.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    KONSEP MEDIK

  1. Definisi
Gastritis adalah peradangan pada mukosa gaster yang satu dari masalah-masalah biasanya menyerang lambung, dapat akut maupun kronik, difus atau local (Lewis, 2000).
Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut dan kronik, difus atau local (Sylvia A. Price, 1994).

  1. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan
Lambung merupakan sebuah kantung muskuler yang letaknya antara esophagus dan usus halus, sebelah kiri abdomen di bawah diafragma. Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gerakan peristaltik, tekanan organ lain, tekanan organ lain dan postur tubuh. Struktur lambung.
a.       Fundus ventrikuli
Bagian ini menonjol ke atas, terletak di sebelah kiri osteum kardiakum dan biasanya berisi gas. Pada batas dengan esophagus terdapat katup sfingter kardiak.
b.      Korpus ventrikuli
Bagian ini merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus. Antrum pylorus merupakan muara bagian distal dan berlanjut ke duodenum.
c.       Antrum pylorus
Merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus. Antrum pylorus merupakan muara distal yang berlanjut ke duodenum.
d.      Kurvantura minor
Terletak di sebelah kanan lambung dan terbentang dari osteum kardiak sampai ke pylorus. Kurvantura minor dihubungkan ke hepar oleh omentum minor. Suatu lipatan ganda dari peritoneum.


e.       Oesteum kariakum
Merupakan tempat esophagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pylorus yang tidak mempunyai sfincter khusus, hanya berbentuk cincin yang membuka dan menutup osteum dengan kontraksi dan relaksasi. Osteum dapat tertutup oleh lipatan membran mukosa dan serta otot pada dasar esophagus.
Fungsi lambung:
Lambung menampung makanan yang masuk melalui esophagus, menghancurkan makanan dengan gerakan peristaltik lambung dan getah lambung. Penghancuran makanan dilakukan dengan dua cara:
a.       Mekanis   : menyimpan, mencampur dengan sekret lambung dan mengeluarkan kimus ke dalam usus. Pendorongan makanan terjadi secara gerakan peristaltik setiap 20 detik.
b.      Kimiawi   : bolus dalam lambung akan dicampur dengan asam lambung dan enzim-enzim tergantung jenis makanan enzim yang dihasilkan antara lain pepsin asam garam, renin dan lapisan lambung.
1)      Pepsin, memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton) agar dapat diabsorbsi di intestinum minor.
2)      Asam garam (HCl) mengasamkan makanan sebagai antiseptik dan desinfektan yang masuk ke dalam makanan. Disamping itu mengubah pepsinogen menjadi pepsin dalam suasana asam.
3)      Renin, sebagai ragi pembekuan susu dan membentuk kasein dan kaseinogen dari protein.
4)      Lapisan lambung memecah lemak menjadi asam lemak untuk merangsang sekresi getah lambung.
Sekresi getah lambung
Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan apabila melihat, mencium, dan merasakan makanan maka sekresi lambung akan terangsang, karena pengaruh saraf sehingga menimbulkan rangsang kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung. Sekresi getah lambung mengalami 3 fase yaitu:
a.       Fase serebral
Antisipasi dari makan menyebabkan stimulus merambat dari otak ke nervus vagus sampai ke lambung yang merupakan kelenjar yang terstimulasi untuk mensekresi hormon gastrin yang disekresi oleh membran mukosa kanalis pylorus yang menghasilkan getah lambung.
b.      Fase gastric
Pada fase ini gastrin lebih banyak diproduksi.
c.       Fase intestinal
Masuknya darah ke dalam intestinum menyebabkan sekresi getah lambung membentuk lebih banyak gastrin.

Sfingter pylorus mengendalikan pengosongan lambung walaupun pylorus tetap terbuka. Kontraksi antrum akan diikuti oleh kontraksi pylorus dan duodenum. Apabila suatu gelombang peristaltik kuat sampai di antrum maka tekanan isi antrum naik dan diikuti oleh kontraksi pylorus sehingga mendorong kembali sebagian besar isi antrum yang masih bersifat padat ke korpus lambung, hanya sejumlah kecil yang masuk ke duodenum pada setiap kali kontraksi.











  1. Etiologi
Gastritis disebabkan oleh;
a.       Obat-obatan: analgetik dan anti inflamasi nonsteroid dalam dosis tinggi.
b.      Endotoksin: karena infeksi dari bakteri seperti staphylococcus, eschericia coli atau salmonella.
c.       Zat-zat pada pencernaan yang bersifat korosif termasuk zat asam.
d.      Iritasi lokal oleh alkohol, merokok, makanan yang pedas dan asam.
e.       Refluks cairan empedu dan cairan pankreas.
f.       Stress.
g.      Trauma: Nasogastric Suction Large Hiatal Hernia.

  1. Patofisiologi
Secara normal mukosa barrier melindungi lambung dari proses pencernaan itu sendiri yang disebut acid autodigestion. Prostaglandin yang memberikan perlindungan ini. Pada saat mukosa barrier ini mengalami kerusakan maka terjadilah trauma pada mukosa dan menjadi lebih buruk dengan dilepaskannya histamin dan stimulasi saraf kolinergik. Asam HCl dapat berdifusi balik ke dalam mukosa dan menyebabkan luka pada pembuluh darah kecil. Difusi balik ini mengakibatkan edema, perdarahan, dan pengikisan pada lapisan-lapisan di lambung. Perubahan patologi yang terjadi pada gastris adalah penebalan, kemerahan pada membran mukosa dengan rugae yang menonjol dan berlipat-lipat.  Dengan berkembangnya penyakit, dinding di lapisan lambung menipis dan atrofi. Dengan atrofi lambung yang progressive dari perlukaan mukosa yang kronik, menyebabkan memburuknya fungsi utama dari sel-sel parietal. Jika fungsi dari sel-sel yang mengeluarkan asam memburuk, maka sumber-sumber faktor intrinsik menghilang.
Faktor intrinsik sangat penting untuk absorbsi vitamin B12. Saat persediaan tubuh terhadap vitamin B12 akhirnya habis mengakibatkan terjadinya anemia perniciosa.
Kemunduran dapat terlihat pada sel utama dan sel parietal. Lama-kelamaan sekresi lambung berkurang baik jumlah dan konsentrasi asam sampai hanya berupa mucus dan air.
Perdarahan dapat terjadi setelah tahap gastritis akut atau dengan ulserasi yang menyebabkan gastritis kronik. Pasien dapat mengalami ketidaknyamanan, sakit kepala, mual, muntah dan anoreksia, sering disertai dengan muntah dan cegukan.

  1. Tanda dan Gejala
a.       Serangan awal berupa nyeri lambung
b.      Anoreksia, mual, muntah
c.       Kram pada abdomen
d.      Perdarahan lambung
e.       Dispepsia (rasa panas pada abdomen)
f.       Penurunan BB
g.      Anemia

  1. Pemeriksaan Diagnostik
a.       Endoscopy         : Esophagogastroduodenoscopy dengan biopsi untuk mendiagnosa gastritis.
b.      Radiologi           : Foto OMD (Oesofagus Maag Duodenum).
c.       Laboratorium     : Pemeriksaan darah pada faeces bila terjadi perdarahan lambung.

  1. Penatalaksanaan
a.       Terapi obat-obatan
1)      Obat untuk menghambat sekresi lambung, seperti ranitidine, zantac, cimetidine.
2)      Obat-obatan yang melapisi barrier mukosa seperti golongan antasida (mylanta).
3)      Vitamin B12 diberikan pada penderita gastritis kronis untuk pencegahan atau pengobatan anemia perniciosa.
b.      Terapi diet
Dengan membatasi pemasukan makanan yang mengandung bumbu yang dapat menyebabkan iritasi teh, kopi, gula, cokelat, paprika, cengkeh, bawang putih, dan bumbu pedas dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada penderita gastritis.

c.       Tindakan pembedahan
-          Gastrectomy partial atau total gastrectomy
-          Pyloplasty
-          Vagotomy

  1. Komplikasi
a.       Perdarahan lambung
b.      Dehidrasi bila terjadi pengeluaran yang berlebihan karena muntah terus-menerus.
c.       Anemi perniciosa

B.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
a.       Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
1)      Kaji pengetahuan pasien tentang penyakit
2)      Kebiasaan minum alkohol.
3)      Kebiasaan minum obat-obatan
4)      Kebersihan pengolahan makanan.
b.      Pola nutrisi metabolik
1)      Anoreksia, mual, muntah
2)      Kembung dan nyeri epigastrik
3)      Apakah ada tanda anemia dan dehidrasi.
c.       Pola eliminasi
1)      Adakah diare
2)      Konsistensi dan warna faeces
d.      Pola aktivitas dan latihan
1)      Aktivitas waktu senggang
2)      Merasa lelah
e.       Pola tidur dan istirahat
1)      Apakah ada nyeri epigastrik
2)      Kram pada abdomen
f.       Pola mekanisme koping terhadap stres
1)      Stres
2)      Merasa takut/cemas

  1. Diagnosa Keperawatan
a.       Kekurangan volume cairan tubuh b.d. masukan cairan yang kurang atau tidak cukup dan kehilangan cairan tubuh berlebihan karena muntah.
b.      Nyeri b.d. iritasi mukosa lambung.
c.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. mual tan muntah serta masukan nutrien yang tidak adekuat.
d.      Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit.

  1. Perencanaan Keperawatan
a.       Kekurangan volume cairan tubuh b.d. masukan cairan yang kurang atau tidak cukup dan kehilangan cairan tubuh berlebihan karena muntah.
HYD: Turgor kulit elastis, produksi urine 1 cc/kg BB/jam.
Rencana tindakan:
-          Kaji tanda dehidrasi.
R/  Untuk memberikan tindakan keperawatan yang tepat.
-          Berikan dan pantau jumlah dan jenis cairan intravena.
R/  Memelihara, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
-          Berikan antiemetik yang ditentukan.
-          Catat jumlah dan frekuensi muntah, pertahankan masukan cairan dan catat pengeluaran cairan 1, catat BB  tiap hari pada fase akut.
R/  Memantau secara nyata keseimbangan cairan.
-          Monitor hasil lab yang berhubungan dengan serum, sodium, potasium.
R/  Indikator keseimbangan elektrolit.

b.      Nyeri b.d. iritasi mukosa lambung.
HYD: Nyeri berkurang sampai dengan hilang.
Rencana tindakan:
-          Kaji intensitas nyeri.
R/  Memberikan gambaran akan intervensi yang akan dilakukan.
-          Diskusikan dengan pasien tentang faktor penyebab nyeri.
R/  Menghindari faktor tersebut.
-          Ajarkan teknik relaksasi (nafas dalam).
R/  Mencegah terjadinya mual dan mengurangi ketegangan lambung.
-          Berikan terapi golongan antasida sesuai program dokter.
R/  Mengurangi produksi asam lambung yang berlebihan.

c.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. mual tan muntah serta masukan nutrien yang tidak adekuat.
HYD:    Pasien dapat meningkatkan asupan nutrisi dengan diit yang seimbang yang ditandai dengan kenaikan BB secara bertahap.
Rencana tindakan:
-          Kaji nafsu makan, kemampuan pasien dalam menghabiskan makanan.
R/  Menentukan jika terdapat masalah dengan segera.
-          Yakinkan pasien bahwa nafsu makan akan timbul lagi jika mual dan muntah telah teratasi.
-          Pertahankan nutrisi melalui intravena atau nutrisi perparenteral sampai asupan peroral memungkinkan.
R/  Memberikan cairan yang diperlukan, elektrolit, kalori dan masukan protein.
-          Ajarkan pasien untuk makan makanan yang lunak dan tidak mengiritasi.

d.      Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit.
HYD:    Kecemasan berkurang, pasien dapat menjelaskan pengertian tentang faktor penyebab dan tindakan pengobatan.
Rencana tindakan:
-          Jelaskan rasional dan rencana perawatan dan tes diagnostik.
R/  Meningkatkan pengertian pasien dan mengurangi kecemasan.
-          Beri penjelasan tentang hubungan antara mual, muntah dengan makanan, obat-obatan, perawatan dan faktor psikososial.
R/  Meningkatkan kooperasi pasien dalam menghindari faktor penyebab.

  1. Discharge Planning
a.       Tekankan kepada pasien tentang pentingnya menghindari kafein, nikotin, bumbu pedas, alkohol, asam, karena dapat mengiritasi mukosa lambung.
b.      Anjurkan pasien menggunakan obat-obat yang diresepkan.
c.       Pasien dengan anemia perniciosa diberikan injeksi vitamin B12 jangka panjang.
d.      Cegah makanan dan minuman yang terkontaminasi.
e.       Lindungi diri dari terpapar zat toksik di tempat kerja.



C. Patoflodiagram





















BAB III

PENGAMATAN KASUS

 

 

Pengamatan kasus dilakukan pada Tn. J umur 42 tahun, status belum kawin, agama Kristen, dengan diagnosa masuk Gastritis. Pasien masuk RS. Sumber Waras tanggal 6 Januari 2004 melalui UGD Sumber Waras dengan keluhan sejak 2 h ari yang lalu pasien mengeluh mual, muntah 4x/hari, tidak nafsu makan, dan nyeri pada ulu hati.
Pada saat pengkajian tanggal 7 Januari 2004, KU tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, observasi TTV: TD: 130/70 mmHg, N: 82 x/menit, HR: 86 x/menit, P: 20 x/menit, S: 36,8oC. Pasien masih mengeluh mual, muntah, dan tidak nafsu makan. Pasien mengatakan luka pada kaki sudah lama menurut pasien luka disebabkan karena kena banjir. Pasien terpasang infus RL 6 jam/kolf.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 7 Januari 2004, Haemoglobin 8,1, Hematokrit 23,7, Leukosit 11.700/ul, Trombosit 361.000 /ul.
Pasien mendapat terapi obat Rantin 2 x 150 mg, Vometa 3 x 15 cc, Farmacrol 4 x 10 cc, Dakicin C 3 x 300 mg.



BAB IV

PEMBAHASAN KASUS



Berdasarkan hasil pengamatan kasus selama 2 hari pada Tn. J maka didapat sebagai berikut:

A.    Pengkajian

Pada pengkajian ada yang didapat yaitu mual yang disertai muntah, nafsu makan berkurang, badan lemah. Tidak semua tanda dan gejala di teori didapati di pasien. Gastritis yang didapati pada pasien karena adanya kebiasaan makan yang salah.

B.     Diagnosa

Masalah keperawatan yang didapat adalah:
  1. Nyeri epigastrik b.d. peradangan pada lambung.
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. anoreksia, mual, muntah.
  3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. intake yang kurang.
  4. Kerusakan integritas kulit b.d. luka pada kaki kiri.

C.    Implementasi dan Evaluasi

Intervensi yang diberikan kepada pasien disesuaikan dengan kondisi pasien serta kerjasama medik dan keperawatan. Pelaksanaan keperawatan yang diberikan  kepada pasien adalah memberikan penyuluhan kepada pasien untuk merubah kebiasaan makan dan menjaga kebersihan luka.
Setelah melakukan intervensi didapatkan evaluasi akhir dimana semua masalah keperawatan yang ditemukan pada pasien belum dapat teratasi karena keterbatasan waktu.




BAB V

KESIMPULAN


Gastritis adalah peradangan pada mukosa gaster yang satu dari masalah-masalah biasanya menyerang lambung, dapat akut maupun kronik, difus atau lokol.
Dari pengamatan dan pembahasan kasus, maka penulis menyimpulkan bahwa penyebab penyakit gastritis yang diderita pasien adalah karena kebiasaan makan pasien yang sering makan makanan yang pedas dan asam-asam misalnya rujak dan asinan, diikuti dengan kebiasaan makan yang tidak teratur. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan mukosa lambung yang akhirnya mengakibatkan peradangan pada mukosa lambung, sehingga mengalami masalah dalam pencernaan. Penyuluhan yang penting dan dapat diberikan pada pasien adalah menghindari makanan yang dapat menimbulkan iritasi pada lambung dan minuman yang asam dan mengandung alkohol, yang dapat menyebabkan pendarahan yang lebih lanjut. Bagi keluarga di sini yang penting adalah support untuk pasien agar mau berperilaku hidup sehat.



DAFTAR PUSTAKA


Brunner and Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 2. EGC, Jakarta. 2002.
Donna D. Ignatavicius. Medical Surgical Nursing. WB. Saunders Company. Philadelphia Pennsylvania. 1999.
Doengoes M. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta. 2002.
Thompson. Clinical Nursing. Fifth edition, Mosby, St. Louis Missouri, USA. 2002.
Price and Wilson (1994). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC. Jakarta. 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar